Merajut Kenangan Perjuangan …

Cerita Kenangan 1

By on 18 Feb 2016 in Cerita Kenangan | 0 comments

 

Aslim Nurhasan BKI: Yang saya sangat inget ada 5 peristiwa:
1-perubahan sistem pendidikan agama,
2-memastikan aktifis BKI tidak ada yang DO,
3-IPB berhijab dan ane mau dikeluarin oleh rektor 3 (bp Norman?),
4-manfaatkan seluruh Masjid dan Mushalla sebagai tempat belajar da

Asep Saefuddin
Dari konsep organisasi saya disepakati bhw BKI hrs jadi satu Badan Otonom di Dewan Mhs IPB, waktu itu ketua DM IPB adalsh Bang Mustafa Abu Bakar
Tahap persiapan Pas libur semester th 76 (juni), saya yang memimpin rapat di ruang PKM IPB. di pojok tanpa meja, gelar tikar, karena blm bisa minjam ruang. Hadirin yg saya ingat adalah Asep Saefuddin, Chaerul Muluk, Syahrowi, Suryahadi, Risyaeni, Hani, Did
Maaf ada satu lagi yg saya ingat hadir adalah Latifah. Boleh dikatakan akhirnya 3 orang itulah yg menjadi formatur inti pembentukan BKI.
Sepulang liburan semester awal, konsep itu disepakati. Dan akhirnya yg berminat ikut gabung makin bsnyak, spt Rachmat Sjahni, Gun Gun, Carunia, dll saya lupa
Entah apa alasannya Bang Mus blm setuju adanya organ otonom BKI itu, saya pikir soal politik. Akhirnya selsma th 76, bersifat kegiatan biasa saja, sbg tempat kumpul2 orang HMI di KAMPUS
Thn 77 awal, ada pergantian Ketua DM IPB ke Bang Farid, dan saya diminta menjadi Ketua Seksi Kerokhanian Islam DM IPB. Tetapi saya berpikir perlu ada tenaga baru supaya bisa menyisipkan ide pembentukan BKI. Maka saya menyarankan utk Seksi itu dipegang oleh
Saya jadi anggota Seksi Penddkn dg Kang Dondin…Tapi akses saya ke Bang Farid cukup langsung dan didrngar, shg saya menyarankan Ketua Kerokhanian Islam DM Ipb itu merangkap Pj Ketua BKI.
Saya sendiri tdk masuk kepengurusan ini. Kalau tdk salah acting ketuanya (krn Syahrowi di DM) itu dipegang oleh Atack Tauhid. Setelah itu diteruskan oleh OON FURQON terus Aslim Nurhasan….
Saya dapat tugas saat itu akhirnya lbh ke HMI, setelah th 78 ngendon di Pesantren Kodam Siliwangi…he
he. Jadi soal intern BKI dan DM ditangani kawan2 HMI lainnya, spt Samuel Kotto

+62 813-1639-7257: Saya masuk di IPB 1978, kayaknya waktu dari seluruh angkatan baru 1 yg pakai jilbab, yg pakai jilbab tsb angkatan 14 (1977), sekarang dia di kementerian pemberdayaan perempuan

Idris Zaini: Saya punya pengalaman yg tak terlupakan dgn Mad Sahid mulyono ini saat kami diundang ceramah di tanjung barat yg skrg ada mesjid tg barat,dulu masih hutan pohon buah buahan , kami saat berceramah ditangkap oleh koramil sekitar jam 12 malam krn ceramah ker

11/01/16 19.02: Herry Rektor IPB: Assalamu’alaikum.
Terimakasih sudah invite saya di WAG BKI IPB. BKI IPB waktu itu adalah wahana berseminya semangat perjuangan dakwah dan kepedulian terhadap umat.

Idris Zaini: Terbayang saat buka kotak amal menghitung uang amal jariah setiap jumat hee heee. Semoga jadi amal sholeh kita

Arif Imam Suroso: Hehehe..bersama bang Idris dari mencari kambing, menyiapkan tempat sholat Ied, menjemput khotib, menyembelih kambing, membagi daging…sampai memberi training di sma sma…..dll.

Hasan Rifai: Dulu para ikhwan begitu care sama akhwat yg berkerudung, mengingat perjuangan mereka begitu sulit dan banyak tantangan, tantangan dari ortu, lingkungan maupun institusi. Alhamdulillah diantara mereka akhirnya berjodoh.

Nursyamsu: Zaman Kang Elan Jaelani (kumaha damang Kang Elan?) dan Bang Iis Syarifuddin (dimana ya beliau sekrg?), sekretariat BKI numpang diluar kampus, persisnya di Mexindo. Syukurnya pd zaman kami ada ruang di kolong tangga Al Ghifari, yg sebenarnya gudang alat-alat kebersihan

Sambas Waemata: Ceritanya jadi bikin kangen … 😭😭😭

Hasan Rifai: Hubungan yg harmonis antara BKI dan Tim Pendidik Agama Islam (TPAI) IPB terjalin dengan apik, lebih2 stelah BKI berkantor di bawah tangga al Ghifari.
Kemudahan lain adalah krn saya, mas Eko (Sujarwo) dan Harif (Siswanto) mendapat SK dr PR 3 pak Norman untuk jadi marbot di Al Ghifari

+62 856-9312-8377: Tak jarang bend bki jg bend hmi, jdlh hmi yg duafa dpt melakukan kegiatan2nya krn di support dana bki yg beunghar krn ngurusin keropak 2 sholat ied di bs😊😊😊

Syahrowi Nusir : Asslm teman2 dan adik2 alumni BKI, senang sekali sdh bisa berinteraksi melalui wadah WA BKI ini. Begitu indah dan banyaknya kenangan indah nostalgia selama kita disana dulu. Sy bnr2 tdk menduga, pd saat awal berinisiatif utk mndirikan wadah ini dulu, bakal

Untung Wahono: Sekalian yg ketemu jodoh di BKI juga menuangkan nostalgianya ….

Apendi Arsyad: Alhamdulilah, subhanallah wallahuakbar, luar biasa kehadiran WA BKI dgn IT ini mengingatkan dgn teman2 para aktivis dakwah Kampus IPB yang selama puluhan tidak pernah bekomunikasi, InsyaAllah niat mulia ingin bersilaturrahmi dapat memenuhi rasa rindu

Syahrowi Nusir: Da Aslim, setahu dan seingat saya, sbg yg turut merintis pendirian BKI tsb, BKI itu resmi sepakat utk sah berdiri pada saat Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar SAW yg dilaksanakan DM IPB di Aula Gunung Gede thn 1976, dgn menghadirkan Grup Penyanyi Bimbo

Asep Saefuddin: Betul, info Bang Syahrowi itu, dan stlh itu kami sodorkan ke Bang Mus ttg BO BKI, yg tdk disetujui DM waktu itu, baru sah th 77. Bhn2 sejarah hrs direkonfirmasi dari bbrp teman saat itu. Saya memang termasuk formatur pembentukan dg Bang Syahrowi, Kang Muluk…setelah itu jadi anggota biasa saja, tukang bawain air kalo ada acara, nganter penceramah, ikut ldk Salman walaupun tdk tamat

Zaim Saidi: Baru terasa lagi, bahasa pertama di IPB memang bahasa Jawa, tapi di kawasan al Ghifari, dan lingkungan BKI, bahasa utamanya nyarios Sunda! Bahasa keduanya bahasa indonesia…

Chairul Muluk IPB: Iqbal Assegaf (Allahu Yarham) telah lama mendahului kita…. Dan saya berharap dapat Silaturahmi suatu waktu dg Bang Idris Zaini bila ke Medan

Nursyamsu: Sama Bang Sjaiful Achjar teringat insiden bersama Bang Aziz juga, di tahun 1984. Waktu itu hubungan BKI dan TPAI cukup mesra. Bersama membuat training untuk asisten Agama Islam. Itu adalah saat-saat menjelang meletusnya peristiwa Priok

+62 813-1639-7257: Utk almarhum bang farid rasyid fakih F 10001 yg banyak jasanya utk mengembanfkan syi’ar islam. Saya inget, pada bulan Ramadhan 1978, saya mengikuti pelatihan/pengajian singkat di asrama felicia (sempur) dg mentor kawan kira Azhar (asli Aceh)..

+62 813-1639-7257: Dulu, semua kita apakah dari HMI, PMII, IMM bersahabat tanpa sekat2 apapun di BKI, saya angkatan 15

Syahrowi Nusir BKI IPB: Iya betul sekali kang Fuadi, disini dulu ada kebersamaan kita tanpa sekat bagi kader2 Islami kampus di berbagai orgnsasi ekstra tsb, apalgi utk berafiliasi ke salah satu Organisasi Besar keagamaan, spt HTI, dll (walaupun memang HTI blm ada waktu itu)

Didik J Rachbini: secara organisasi tidak berafiliasi tetapi secara substansi iya. secara struktural tidak ada tetapi non struktural bersambung

Arif Imam Suroso: Abdi mah aktif di bki, hmi, asiten tpai, dkm al ghifari dan sekarang PNS…:-). Kang Rifqi Isyarah di bki, hmi, imm, asiten tpai …
Zaim Ukhrowi di bki, asisten tpai dan agak galau tak bisa masuk asrama felicia karena bukan aktivis hmi 🙂 dst. dst.

Achmad DR IPB: Subhanallah semoga Ukhwah akan semakin kuat dengan cara berlomba mendapatkan diri kepada Allah SWT.

Arif Imam Suroso: Ayo galang ukhuwah …jangan bangun syu’udhon…

Achmad DR IPB: Maaf. Mhn QS 9/71 yg saya sampaikan sebelumnya mohon dijadikan acuan dalam ber ukhwah shg niat baik kita semua di ridhoi Allah SWT.

Hanawijaya: Silaturahim akan menjamin kita utk panjang umur dan banyak rezeki yg halal.

+62 815-9941-161: Para kakak, abang, dan ustadz sekalian. Menurut pengamatan saya yg saat ini masih di kampus, memang ada perbedaan pemahaman dan pendekatan yg dilakukan oleh adik2 kita dalam berdakwah di kampus seperti bkim, dkm alhurriyah, hmi, dll.

+62 815-9941-161: Saya hanya berfikir positif, mereka sedang berlomba untuk memberikan yg terbaik dg model pendekatan yg berbeda corak dan warnanya. Bukan berlomba utk saling menjatuhkan. InsyaAllah

Rachmat Kurnia IPB: Jadi, perubahan BKI menjadi BKIM menurut hemat saya merupakan respon terhadap dinamika kehidupan organisasi kampus kala itu.

+62 811-110-052: Se7 dengan Bpk Rahmat, dari cerita senior ‘baheula’ dr berbagai organisasi kampus di ipb atau kampus ui, aspek dinamika kampus ditahun itu memang penuh tekanan terutama terhadap mahasiswa. Kalau sy hanya lihat2 foto2 di album BKI

Lukman M Baga: Ukhuwah Islamiyah perlu dinomofsatukan…. perbedaan pendekatan dalam dakwah adalah suatu hal yang biasa. Asal janga perbedaan ini kemudian menjadi ajang saling fitnah dan menjatuhkan. Mari kembali merajut ukhuwah….

Achmad DR IPB: Alhamdulillah,semoga bapak2,ibu2,kakek2,nenek2 beserta putra-putri dan cucu2nya dirahmati Allah SWT dan Istiqamah dalam Iman,Ibadah dan Da’wah. Selamat menikmati karunia Nya dalam tidur dan semoga dapat Qiyamul lail dengan khusyu’ Amin.

Mira S.: saya bertemu dgnnya juga di acara BKI, katanya ini anak kurus tapi kok makannya banyak

Nursyamsu: Diantara staf pengajar di TPAI dulu yang jadi favorit adalah Bu Kokom. Karena rajin memasang-masangkan para aktifis BKI, TPAI dan Al Ghifari. Banyak yang berhasil.. Yang saya heran dari dulu sampai sekarang kalau ketemu saya, yg pertama ditanya bu Kokom adalah Bang Aziz.

Idris Zaini: Ya itu Kang Soenman lah.Tauladan kita semua.
Lebih dahsyat lagi di Cihideng Cimanuk Pandeglang Banten bersama Zaenal Ali Abidin,mungkin Suswono juga ingat ,prof Evi isteri Kang Rohmin saat mau sholat tahajut dan renungan malam di tujuh pintu ruangan acara..

Asep Saefuddin: Kekhasan Kang Sunmanjaya klw berdo’a suka bilang “marilah kita mulai dengan mengucap istigfar dlm hati sebanyak 3 kali”. Model ini diikuti oleh Bang Dris…marilah kita mulai dengan mangucap istigfar dlm hati sebanyak 33 kali….kata Kang Pupup teh, walah Asep Saefuddin: Kekhasan Kang Sunmanjaya klw berdo’a suka bilang “marilah kita mulai dengan mengucap istigfar dlm hati sebanyak 3 kali”. Model ini diikuti oleh Bang Dris…marilah kita mulai dengan mangucap istigfar dlm hati sebanyak 33 kali….kata Kang Pupup teh, walah ….

Euis Sunarti: Yap seharusnta dmkn… membuat barisan yg kokoh… spt ayat di surat As shaf ya…

Hery Bachrizal WA: Ass Wr Wb …
Melihat dan membaca para tokoh dan kalimat2 yg tertulis di WA ini, seperti membuka kembali catatan kehidupan para merbot masjid Al-Ghifari 35-31 tahun yg lalu.
Kini para merbot itu sudah dan sedang berkiprah dalan kancah umat dan bangsa…

Hanawijaya: Ust Hery Bachrizal, mudah2an ust masih inget sy. Anak tenabang yg suka ngelawan waktu PPMB Sosek. Kebaikan ust mengajarkan cara mandi junub sesuai dgn hadist shaheh terkenang kembali oleh sy ketika ada pengajian di kantor hari rabu yg lalu.

Adian Husaini: Masalah LGBT sangat serius. Perlu ada konsep&bentuk penanggulangan yg integral, aspek agama, sosial, dll.Baiknya ada kampus yg punya Pusat Kajian LGBT.

Iin Solihin IPB: Saat saya jadi pengurus BKI angkatan 26, sekretariat kami di Darmaga belum di dalam kampus karena saat itu belum ada fasilitas untuk sekretariat keg mhs. Tempat kos mhs kami jadikan sekretariat. Jadinya berpindah pindah sesuai tempat kost pengurus

Apendi Arsyad: Subhanallah, walhamdulillah, asyik juga baca WA alm BKI IPB kisah2 tempo dulu. Jujur saya katakan, saya bersyukur kpd اَللّهُ swt bisa masuk ke UKM Rois BKI tahun 1980, atas saran dan nasehat senior saya waktu itu Kang Didik J Rachbini (aktivis HMI)

Ujang Sumarwan: rupanya keahlian yang harus dilanjutkan adalah potong kambing

Euis Sunarti: Sy koq masih merasa smp akhir selesai S1 (85) BKI dan HMI masih guyub…

Hal yg selalu sy syukuri adalah kelengkapan pengalaman dan pembinaan ala BKI, HMI, & TPAI… saling melengkapi dan menguatkan.. hal tab berkontribusi thdp pembangunan kapasitas …

Apendi Arsyad: InsyaAllah saya juga bantu2 nulis sejarah KeBKIan era 1981an (rezim orda Suharto, islam fobby, aktivitas keISlaman kampus dihambat/dicurigai, azas tunggal Pancasila dst, bangkitnya peran Cendekiawan muslim se Indonesia thn 1986 (Maret 1986) …

Adian Husaini: InsyaAllah. Trrimakasih semuanya… Alhamdulillah… Ruh perjuangan dari BKI IPB tetap membara… Tugas berat saya, dan mungkin kita semua, adalah menyiapkan anak-anak kita, agar mereka lbh baik dari kita2… Dan juga mampu mendidik anak-anak mrk…

Nursyamsu: Uda Hery Bachrizal, baa kabanyo..?. Ingat juga kan perjalanan kita sama Ust Hasan Rifai, Pak Prof Didin dan Pak Uwen (alm) ke Sumbar, atas undangan teman-teman IPMM, untuk mengisi training siswa SMA di sana..

Hery Bachrizal WA: Bang Ucu … itu perjalanan dramatis …. karena salah pilih mobil …. tidak pakai AC dan penuh debu ketika lewat tebing tinggi lahat ….

Nursyamsu: Karena keterbatasan dana kita berlima naik Bis dari Jkt ke Padang. Tanpa pengalaman, belum ngerti apa yg harus disiapkan. Gak faham pilih bis. Lumayan, 3 hari-3 malam..
Hari kedua, dipagi hari bis berhenti cukup lama. Penumpang dipersilahkan mandi dan bebersih. Kamar mandi nya terbatas, antrian panjang. Ketika sama Pak Didin sdg antri giliran mandi. Terdengar ada yg panggil-panggil nama saya dari arah sungai (dekat kamar mandi), ternyata suara Pk Uwen yg sedang asyik berenang di sungai..

Hery Bachrizal WA: Tetapi … perjalanan itu pula yg mungkin menyebabkan saya … kemudian … bebsrapa tahun kemudian memilih Padang sebagai domisili dan tugas ..

Nursyamsu: Di Padang training berjalan sukses, Pak walikota yang membuka acara, karena senangnya juga hadir lagi di hari kedua dan berkenan juga menutup acara. Katanya: “kini kami sudah punya cara untuk melawan kenakalan remaja di kalangan pelajar di kota Padang”. Kami diserbu wartawan lokal untuk di wawancara..
Lain padang, lain belalang. Besoknya kami bergerak ke Batusangkar. Sangat terkejut sambutannya berbeda 180 derajat. Kami terlambat datang di acara pembukaan. Pas mausk ruang acara, ketika Pak Bupati sedang sambutan. Ternyata isi sambutannya pendek saja: “acara saya bubarkan”. Bahkan tersiar kabar, kami datang membawa aliran yg berbahaya. Untuk berjaga-jaga, kami diungsikan oleh teman-teman IPMM jauh diluar kota. Alhamdulillah di masjid di kampung tempat kami diungsikan, pak Uwen diminta mengisi khutbah Jum’at (karena pas hari Jum’at). Dan malamnya juga ngisi pengajian yang ramai dihadiri warga. Saat yg sama datang kabar dari teman IPMM bahwa kami diminta Pak Bupati untuk menghadap. Setelah berdiskusi, disela shalat istikharah, Pak Ustadz Didin Hafiduddin meminta beliau saja yg berangkat sendirian hanya ditemani tuan rumah (yg rumahnya kita tempati).
Kami menanti dengan tegang, karena zaman itu, sulit ditebak apapun bis terjadi. Harap-harap cemas menunggu Pak Ustadz Didin kembali.. Malamnya alhamdulillah Pak Ustad Didin kembali, sambil senyum-senyum. Ceritanya, ketika sampai di rumah Pak Bupati, suasana sangat tegang. Sambil menunggu Bupati keluar, Ustadz Didin ditemui oleh Ibu Bupati, sambil bertanya dalam bahasa Sunda. Ternyata istri Pak Bupati berasal dari Cianjur. Dirunut-runut ternyata juga ada hubungan keluarga.

Hery Bachrizal WA: Iya .. Teh Iim Nurohimah …. itu perjalanan dakwah yg sangaaat berkesan untuk saya ketika itu ….

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *